Berbusana Jawa, Penanaman Nasionalisme di Hari Kartini

Hari ini, 21 April 2022 adalah peringatan hari Kartini ke-143. Hari di mana Kartini lahir di kota Jepara Jawa Tengah. Kartini  bernama lengkap Raden Ajeng Kartini,  seorang tokoh wanita yang oleh pemerintah diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional karena jasa beliau dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Ketika itu di Indonesia, terutama di Jawa  ada diskriminasi perlakukan terhadap wanita. Wanita dianggap lebih rendah derajatnya dari pada pria dan tidak mendapatkan hak-hak yang harusnya diperoleh seperti bersekolah, bekerja, berperan di masyarakat dan lain-lain. Dengan usaha RA Kartini beserta teman-temannya, akhirnya kaum wanita di Indonesia mendapatkan persamaan hak dan kewajiban dengan kaum pria. RA Kartini berhasil memajukan wanita Indonesia melalui pendidikan. Sejak saat itu wanita mendapat kesempatan yang sama dengan pria baik dalam bersekolah, berprofesi, bermasyarakat, berpolitik dll.

RA Kartini adalah wanita Jawa, bahkan dari kalangan bangsawan. Pada era kehidupannya lekat dengan penggunaan busana tradisional Jawa. Maka peringatan hari Kartini pun biasanya identik dengan penggunaan busana bernuansa tradisional/adat Jawa.

Begitu pula SMP Stella Matutina, diperingatan hari Kartini ke-143 ini mengimbau semua warga sekolah (Guru, karyawan, dan siswa-siswinya) mengenakan pakaian bernuansa Jawa. Tidak hanya kebaya, sorjan atau beskap, bagi yang tidak memiliki pakaian tradisional Jawa, bisa mengenakan pakaian batik yang juga merupakan salah satu ciri khas budaya Jawa. Ini memang hanya tentang berpakaian atau berbusana, tetapi memiliki makna yang dalam. SMP Stella Matutina sebagai sekolah yang senantisa menanamkan karakter positif, bertujuan agar semua warga sekolah,  terutama siswa-siswinya  memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, begitu kata pepatah. Hari Kartini sebagai momentum yang baik untuk mengajak warga sekolah menghargai jasa pahlawannya. Selain mengajak semua warga mengenakan busana/pakaian Jawa, sekolah tetap mengadakan upacara bendera terbatas (karena masih pandemi) dengan pembacaan riwayat singkat RA. Kartini. Bahkan lomba-lomba antar kelas bernuansa Kartini pun akan digelar walau pelaksanaannya pada hari yang lain, mengingat kelas IX masih melaksanakan ujian sekolah. Lomba-lomba itu antara lain memakai dasi dan mengenakan serta mengkreasi kain jarik menjadi busana yang menarik digunakan, setelah itu ditampilkan. Lomba edukatif pun ada yaitu  cipta baca puisi dan menyanyi lagu bertema emansipasi wanita.

Dengan berpakaian nuansa Kartini (Jawa), kegiatan upacara dan lomba-lomba, sekolah hendak mengajak semuanya untuk selalu memiliki jiwa nasionalime terhadap bangsa dan negara Indonesia. Nasionalisme itu antara lain melalui mengingat siapa Kartini, jasa-jasa apa yang telah diberikan untuk negara dan bisa kita teladani dan kita implementasikan dalam kehidupan terutama era sekarang ini. Di samping itu siswa-sisiwi dan warga sekolah diajak untuk terus menghargai budaya yang kita miliki, “nguri-uri”  melestarikan budaya agar terus hidup sebagai salah satu identitas  bangsa. Dengan lomba-lomba, selain menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, juga meningkatkan daya kreativitas serta inovasi siswa-siswi. Dari sinilah karakter yang baik dari siswa-siswi dibangun.

Dan ternyata, dengan berbusana tradisional Jawa selain semua terlihat lebih gagah dan anggun, tidak menyurutkan semangat, bahkan tidak menghalangi gerak warga sekolah dalam melakukan aktivitas keseharian di sekolah, seperti belajar-mengajar, ujian sekolah, berkebun, bahkan olah raga. Semua melaksanakan dengan nyaman. Dan kesederhanaan pun tampak di SMP Stella Matutina, karena tidak perlu ke salon dan mengeluarkan banyak uang untuk berbusana Jawa, cukup dipakai dengan bersih, rapi, dan serasi, senyum yang manis dan pembawaan yang ceria membawa penampilan menjadi menarik. Intinya, bagaimana kita bisa bijaksana menggunakan. Selamat hari Kartini dan selamat menjadi Kartini-Kartini di era Milenial.

 

Penulis : Virene Irida Pramuduaningrum/ Pendidik di SMP Stella Matutina

Editor  : Evaristus Cahya

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.